Aug 28 2008

taufancahyadi

A Shift of Emotion

Posted at 1:45 pm under Uncategorized

Malam itu, kamis 28-agustus.. ketika aku pulang dari kantor pukul 8.30 malam — badan terasa sakit semua dan aku sudah bersiap untuk tidur.

Sebuah panggilan masuk ke hape-ku: “Ah, si bos ngapain nih telpon jam segini?”

Dilihat dari situasinya — jam berapa dia menelpon — sebenarnya sudah bikin aku males untuk menjawab panggilan tersebut. Namun, aku teringat dengan komitmen-ku, untuk berusaha meningkatkan performance dalam pekerjaan, yang salah satu parameternya adalah ‘reachability’. So, dengan terpaksa aku angkat juga.

“Taufan, bisa tolong saya? Ini nih ada kerjaan. Bisa datang ke kantor malam ini?”

“Buseet dah,” kataku dalam hati. Secara jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat, jarak dari rumah ke kantor yang lumayan jauh, dan kemalasanku untuk keluar malam2 tanpa ada mobil jemputan kantor.

“Memangnya ada apa, pak?” tanyaku

“Ini, ada masalah penting. Tolong deh, loe datang ke kantor?”

Wah, si bos ini ilmu merayu-nya makin pinter. Ngerti aja kelemahanku, bahwa semakin orang merayu dengan kata2 ‘tolong’ .. membuatku jadi tidak enak hati untuk menolak permintaan tersebut.

“Tapi ngga ada mobil nih, pak. Semuanya sudah dipake orang lain, kerja malam (lembur) juga”

“Ya udah, loe pake taksi aja.. entar gw ganti”

Nah, lhoo.. makin tidak ada alesan aku untuk menolak permintaannya.

Tadinya aku pengen mandi, karena badan terasa lengket karna keringat. Namun, kondisi badan lagi ngga mau diajak kompromi.. penyakit masuk angin-ku lagi kumat. Ya udah, cuci muka aja cukup!

“Aduh, dimana aku musti nyari taksi yah?” Maklum, tempat kost-ku ini meski ngga bisa dibilang kampung/ndeso, tapi letaknya yg masuk ke perumahan tidak memungkinkan untuk menyegat taksi, kecuali aku keluar dari komplek perumahan tersebut.

Akhirnya aku putuskan untuk berburu taksi, keluar muter2 bentar naik motor. Untungnya, baru keluar dikit dari komplek sebuah taksi bluebird dengan lampu taksinya yg menyala lewat di depanku. Segera ku hentikan, dengan sinyal lambaian tangan.

“Taksi, pak!”

“Mau kemana, mas? Soalnya, saya juga udah mau balik ke pool ini”

“Ke Gatot Subroto, pak”

“Oh, ya .. bisa mas. Pool saya di Duren Sawit. Entar gampang kalo dari gat-su”

Akhirnya, jadi dah aku naik taksi tsb. Sepanjang perjalanan, si supir mengajak aku ngobrol. Tentang puasa yg bentar lagi datang. Tentang tradisi lebaran, dengan kebiasaan orang mudik dan tiket pesawat maupun kereta yg melonjak tinggi.

“Kalau saya, lebih enak pulang agak mundur sih, pak. Soalnya ke Surabaya, deket2 lebaran sudah ngga dapet tiket lagi”.

Tidak terasa — mungkin karena sudah malam juga — perjalanan sampai di tujuan. Sebuah gedung di jalan Gatot Subroto, berdiri dengan sosok tegak menjulang. Terasa agak aneh juga, mengingat di siang hari gedung ini akan dipenuhi dengan orang2 yg bekerja di sana — dan sekarang, situasinya malah sunyi sepi.

Sebenarnya agak lama juga saya tidak ke gedung itu. Untungnya bapak satpam masih ingat wajah saya dan karenanya saya bisa masuk ke dalam tanpa banyak pertanyaan yg macam2.

Tadinya aku pikir, bakal sepi. Tadinya aku pikir bakal teler, karena masuk angin yang kualami terasa makin parah, membuat kepalaku pusing dan pingin muntah.

Eh, kok ndilalah.. satu persatu teman2 baikku muncul. Ngga nyangka, jam segini mereka masih kerja juga. Kesepian dan kejengahan, berganti menjadi keceriaan. Masuk angin yang mendera, akhirnya hilang (setelah kuhantam dengan 2 butir Panadol, tentunya). Ya udah, akhirnya kondisi fisik dan psikis, yang tadinya lemas.. jadi bersemangat lagi: siap untuk kerja.

Heran yah: betapa segala-nya bisa berubah begitu cepat; through a shift of emotion — perubahan emosi dalam diri yang tadinya negatif (males, jengah) menjadi positif (gembira, ceria).

“Hmm, kalo lembur gini.. berarti aku besok masuk siang, dong? Siip, daahh!!”

*Written while I’m in CG, at 3:45

No responses yet




Comments RSS

Leave a Reply